22Jul

Ucapan Syukur 20 Tahun Stella Maris - Suka Cita Petualangan Ellena

(Oleh: Kristiana - SMP, Stella Maris School BSD)

Hari masih begitu gelap, namun kenapa mama papaku sibuk sekali, bahkan aku harus bangun dan segera mandi pagi? Waktu itu pukul 03.30 WIB aku harus segera bergegas untuk meninggalkan rumah bersama mama papaku. Namaku Ellena Ayuningtyas, usiaku 1 tahun. Aku hanya bertanya dalam hati “Ini pada mau kemana sih?” Pelan-pelan mamaku berbisik katanya, “Kita mau ke Bali.” Bali? Apa itu? Dimana itu? Sungguh aku tidak tahu dimana dan tempat apa itu. Ini adalah petualanganku yang pertama. Simak ceritaku ya.. tetapi karena aku belum bisa ngomong maka mama sebagai wakilku.

Hari pertama kami kumpul di Bandar udara Soekarno Hatta, Tangerang, senang bertemu dengan teman-teman lain. Dengan wajah yang ceria kami saling menyapa, tidak tercermin wajah yang ngantuk sekalipun kita harus berkumpul pagi-pagi buta. Sudah saatnya kami naik pesawat dan sekitar 1 jam kami berada di negeri atas awan akhirnya kami pun mendarat di Pulau Dewata, Bali. Uh..! Aroma dupa sangat menyengat, bunga-bunga dan sesajian yang ada menyambut kedatangan kami. Hal ini sangat berbeda sekali dengan Jakarta. Hmm…udara yang sejuk, alunan musik bali yang mengantar kami menikmati keindahan dan eksotisnya pulau dengan seribu Pura, itulah Bali.

Pertama, tempat yang kami kunjungi adalah Puja Mandala, ini adalah tempat dimana ada 5 tempat ibadah yang berdampingan. Hal ini mengibaratkan kerukunan antar umat beragama yang ada di Bali. Menurut mbok Dayu salah satu guide bus kami, keberagaman kepercayaan tidak menyurutkan rasa toleransi yang dimiliki oleh masyarakat Bali. Terlebih tahun ini ada 3 perayaan keagamaan yang dirayakan oleh 4 agama dalam 1 minggu. Diantaranya kenaikan Isa Almasih (14 Mei 2015), Maulud Nabi Mohammad SAW (16 Mei 2015), dan prosesi perayaan Tumpek Landep (16 Mei 2015) untuk umat Hindu (perayaan mendoakan benda yang tajam misalnya pisau, gunting, keris yang digunakan masyarakat Bali). Mbok Dayu sangat ramah orangnya, kami memperoleh banyak informasi tentang Bali. Mulai dari bahasa Bali yang lucu-lucu sampai pada istilah yang agak saru. Bahasa Bali tidaklah berbeda jauh dengan bahasa jawa, karena memang secara geografis Bali dekat sekali dengan Jawa. Seperti diantaranya: Bahasa Jawa dari Uang adalah Duwit, tapi dalam Bahasa Bali uang adalah Pipis. Berbelanja dalam Bahasa Jawa adalah Tetuku, sementara Bahasa Bali adalah Jinah dan sebagainya.

Nah, setelah tau beberapa Bahasa Bali kita pakai untuk bercerita. Setelah dari Puja Mandala kami beranjak ke tempat wisata Garuda Wisnu Kencana. Garuda Wisnu Kencana mempunyai arti burung Garuda menjadi kendaraan Dewa Wisnu, dimana dalam agama Hindu Dewa Wisnu dikatakan sebagai dewa pemelihara alam semesta. Tak dapat kami bayangkan karya besar seorang seniman I Nyoman Nuarta yang mengubah gunung kapur nan tandus menjadi sebuah tempat yang menarik dikunjungi. Sampai kami heran dibuatnya dengan relief yang ada di dinding tebing-tebing kapur, dan juga patung Garuda, patung Dewa Wisnu yang begitu besarnya, sekalipun baru jadi 20% yang ada. Tidak ada wisata tanpa berjinah (belanja) maka kami beranjak ke tempat pembelanjaan Kurnia Sari, Banyak diantara kami yang buang pipis disitu untuk berjinah (berbelanja).

Setelah itu kita beranjak ke Pantai Jimbaran. Suasana deburan ombak dan akhirnya kami pun larut bermain ombak bersama dan menikmati butiran-butiran pasir di sela-sela kaki. Dari sini kami menikmati sunset dan disitu sudah melihat jejeran kursi makan malam kita. Suasana sangat asik sekali. Suasana di senja semakin seru dengan adanya panggung musik, tidak terasa kami semua bergoyang bersama, menghabiskan waktu senja itu. Kami pun menikmati alunan lagu demi lagu dan tiba saatnya kita berkemas untuk menuju ke hotel.

Hari kedua kami di Bali, setelah beres-beres kamipun ngajeng (sarapan) karena hari ini kami akan menempuh perjalanan yang cukup jauh sekitar 4 jam. Dengan jalan yang berliku-liku dengan jajaran pantai disepanjang jalan, sedangkan sisi lain jajaran tebing diseberang jalan yang membuat Bali menjadi surganya penikmat alam. Sesampainya kami di Gereja Hati Kudus Yesus kami pun mengadakan misa bersama-sama, sedangkan teman-teman kami yang muslim berwisata ke Bedugul. Kami bertemu lagi di arena Tari Kecak. Tarian Kecak adalah tarian khas Bali yang menceritakan tentang Rama-Shinta yang melawan Rahwana. Tarian yang dari awal sampai akhir tidak ada musik apapun, hanya bunyi-bunyian acapela yang sangat indah dari para pemain, serta para penari memerankan tokoh Rama-Sinta, Lesmana, Rahwana, dan Anoman (kera yang sakti) yang membantu Rama membebaskan Dewi Sinta dari kurungan Rahwana. Setelah menikmati Tari Kecak, kami mau buang pipis lagi di Khrisna, disana banyak lagi pilihan souvenir, makanan, pakaian khas Bali yang bisa kami beli. Nampaknya kami sudah lelah dengan hari ini, kami pun menuju ke hotel.

Hari ketiga, hari terakhir kami di Bali, dengan ramah pemandu wisata kami senantiasa menyapa “Apa kabar semua?” dengan serempak kami pun menjawab, “SuSu” yang artinya baik-baik. Hari ini kita pergi ke Bali Bird Park. Melihat keanekaragaman burung, serta menonton teater 4D dan ditutup dengan pertunjukan atraksi burung yang mengundang decak kagum para penonton. Bali tidaklah lengkap tanpa JOGER. Oleh-oleh kerajinan, kaos, sandal, ditawarkan disana dengan sentuhan artistik, lucu, bahasa ringan namun sangat mengena itulah ciri khas Joger yang memiliki slogan “Kata-kata Yang Diolah Bisa Dijadikan Oleh-oleh”. Cukup unik bukan? Terakhir tempat wisata kami adalah Tanah Lot. Pura yang sangat indah ini terletak diatas laut. Di Tanah Lot yang menjadi unik adalah adanya Ular suci yang dikatakan sebagai penunggu Pura Tanah Lot, orang-orang mengantri untuk mendapatkan air suci dan juga Bije (yaitu biji beras sebanyak 3 butir sebagai tanda kebijaksanaan). Ini ceritaku mana ceritamu?