Spiritual

SMIE is one of the Catholic educational institutions that promote a balance between science and spiritual values, in order to form a good character. We confronted spiritual values based on Christian faith as the basis to achieve intellectual

Bagaimana Cara Beriman Dengan Cerdas, Tangguh dan Misionaris?


20 Apr 2018

Gereja Kristus yang Satu-Kudus-Katolik-Apostolik yang sering dikenal dengan nama ringkas Gereja Katolik telah lama merumuskan ajaran imannya yang konsisten sepanjang zaman itu secara sistematik. Telaah mengenai iman serta bagaimana beriman dengan cerdas, tangguh dan missioner ada dalam ajaran tersebut.

 

BERIMAN DENGAN CERDAS

KGK artikel 155 menyatakan: “Dalam iman, akal budi dan kehendak manusia bekerja sama dengan rahmat ilahi: “Iman adalah suatu kegiatan akal budi yang menerima kebenaran atas perintah kehendak yang digerakkan oleh Allah dengan pengantaraan rahmat. (Thomas Aquinas, 2-2,2,9) bdk. Konsili Vatikan I:DS 3010.” Jelas bahwa ada dua instansi yang bekerja mengarahkan hidup manusia menurut KGK 155 tersebut yaitu: akal budi dan kehendak. Keduanya bisa berfungsi jika bekerja sama dengan “rahmat ilahi” yang ada diluar ketiganya. Kehendak manusia, dengan pertimbangan akal budi dalam imannya akan Allah, mengarah ke tindakan nyata tertentu, keputusan tertentu yang membimbing manusia kepada keselamatan. Setiap keputusan dan tindakan manusia harus mempertimbangkan imannya akan Allah. Tindakan dan keputusan manusia yang benar, harus berdasarkan pertimbangan akal budi yang ada dalam iman dan disebabkan oleh terbukanya pikiran manusia akan rahmat ilahi. Dengan demikian manusia akan memutuskan dan bertindak dengan pertimbangan iman: manakah tindakanku yang bukan kehendak Allah dan yang selayaknya tidak dilakukan. Jadi, kecerdasan akal budi sejati selalu melibatkan iman. Orang cerdas ialah orang beriman, dan orang beriman pastilah cerdas karena mencari keselarasan akal budi akan imannya.

Begitulah beriman dengan cerdas yaitu selalu kritis terhadap rencana, keputusan dan tindakannya sendiri. Demikian pula pada orang Katolik, hendaknya selalu mempertimbangkan prinsip ajaran iman Katolik sebelum memutuskan sesuatu.

 

BERIMAN DENGAN TANGGUH

Rasul St. Paulus menyatakan: “Kamu telah menerima Kristus Yesus Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur” (Kol 2:1-2). Menurut Santo Paulus, keteguhan atau ketangguhan iman itu merupkan proses bisa makin “bertambah teguh”. Ketangguhan ini terjadi karena hidup yang berakar dalam Kristus dibangun di atas pondasi Kristus, dan karena itu melimpah dengan ucapan syukur. Sebenarnya tantangan dan serangan dari luar tidak akan menggoyahkan kita asalah kita tetap berpegang pada iman kepada Allah. Ketangguhan iman sejati berasal dari dalam. Jika dari dalam rapuh, tanpa godaan dari luar pun akan rapuh dengan sendirinya. Orang yang mendengar Dia dan melaksanakan sabda-Nya itulah yang kuat dari dalam, bagaikan rumah yang didirikan diatas batu.

 

BERIMAN DENGAN MISIONER

Misioner berarti melaksanakan misi atau perutusan. Menjadi utusan terjadi karena iman. Setelah pembaptisan, orang Katolik menjadi utusan-Nya. Menjadi misionaris ialah hakikat kita sebagai anggota Gereja Kristus. Gereja menjadi gereja karena melakukan misi atau perutusan, menyebarkan kabar baik dan keselamatan yang telah diterima. Tanpa misi atau perutusan gereja janya menjadi segerombolan orang saja. Mewujudkan diri sebagai misionaris di zaman digital ini lebih mudah secara teknis. Tantangan justru muncul dari dalam diri sendiri, karena sebenar-benarnya misionaris adalah pewarta Injil ialah mereka yang melaksanakan apa yang ia wartakan itu sendiri.

Disadur dari katolitas.org