Spiritual

SMIE is one of the Catholic educational institutions that promote a balance between science and spiritual values, in order to form a good character. We confronted spiritual values based on Christian faith as the basis to achieve intellectual

Formasi Iman Berdimensi Cerdas, Tangguh dan Misioner


27 Apr 2018

Seperti Kristus memberi perumpamaan mengenai penabur, maka setelah benih disemai, harus dirawat, dijaga dari hama dan burung, dipupuk, diberi pelindung, diberi penguat, dijaga pembungaan dan pembuahannya, dipanen dengan tertib. Pembentukan orang-orang beriman yang cerdas-tangguh-misioner tak lepas dari perumpamaan itu. Dimulai dari keluarga yang didasari kesetiaan suami-isteri, penaburan benih iman dimulai. Anak pertama-tama bertumbuh dengan meniru apa yang diperbuat orangtuanya. Kemudian ia akan bertanya-tanya mengenai kebiasaan imannya: mengapa ayah dan ibu membuat tanda salib? Apa isi cerita Kitab Suci? Siapakah Yesus, siapakah paus, siapakah uskup, siapakah imam, apa itu sakramen? Dan seterusnya. Dalam hal ini, KGK 2226 menyatakan: ”Pendidikan iman oleh orang-tua sudah harus mulai sejak usia anak-anak. Ia mulai dengan kebiasaan, bahwa anggota-anggota keluarga saling membantu, supaya dapat tumbuh di dalam iman melalui kesaksian hidup yang sesuai dengan Injil. Katekese keluarga mendahului semua bentuk pelajaran iman yang lain, menyertainya dan memperkayanya. Orang-tua menerima perutusan untuk mengajar anak-anaknya berdoa dan mengajak mereka menemukan panggilan mereka sebagai anak-anak Allah (bdk LG 11)Bagi keluarga-keluarga Kristen, paroki adalah persekutuan Ekaristi dan hati kehidupan liturgi. Ia adalah tempat yang sangat cocok untuk katekese anak-anak dan orang-tua”. KGK 2252: ”Orang-tua adalah orang-orang pertama yang bertanggung jawab atas pendidikan iman, doa, dan semua kebajikan pada anak-anaknya. Mereka berkewajiban supaya sejauh mungkin memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani anak-anaknya”.

Setelah itu, secara berjenjang dan berkelanjutan, paroki dan keuskupan membentuk iman mereka dengan komunitas OMK, kewajiban menyiapkan diri untuk komuni I, persiapan penerimaan Sakramen Krisma, persiapan menikah. Bersama-sama sebagai keluarga Allah, hendaknya kita saling mengingatkan akan pentingnya penumbuhan iman yang cerdas-tangguh-misioner. Misalnya setiap kali bertemu kita saling memberi informasi mengenai pelatihan atau seminar dan diskusi yang baik, bacaan yang inspiratif, website sumber iman Katolik yang terjamin mutunya. Kita saling memberi informasi pula mengenai kegiatan doa dan devosi serta perayaan-perayaan iman sakramental maupun non-sakramental, rekoleksi, retret dan sebagainya. Secara pribadi dan bersama, kita rutin belajar ajaran iman Katolik, dan mendoakan sesama yang susah serta mengunjungi saudara-saudara yang kecil-lemah-miskin-tersingkir-difabel. Lebih lanjut, akan makin menggembirakan hati kita sebagai umat beriman, jika di paroki, sekolah, campus ministry, dan komunitas secara sengaja diprogramkan aneka pendalaman topik-topik iman tertentu. Semoga dengan demikian, nama-Nya makin dimuliakan dan makin banyak orang mendengar warta keselamatan itu melalui Gereja-Nya.

Penulis: Romo Yohanes Dwi Harsanto Pr, Imam Gereja Katolik Keuskupan Agung Semarang, kini Sekretaris Eksekutif Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) periode Januari-Desember 2014, tinggal di Jakarta. Naskah ini diolah dari naskah yang sama yang telah dimuat pada majalah bulanan Kristiani INSPIRASI – Lentera yang Membebaskan no 115 th X Maret 2014.